PENGARUH PUPUK ORGANONITROFOS NPK DAN KOMBINASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN TEBU ( Saccharum officinarum L )
PENGARUH PUPUK
ORGANONITROFOS NPK DAN KOMBINASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN TEBU
( Saccharum officinarum L )
(Laporan Praktikum Mata kuliah Pupuk Dan Pemupukan)
Oleh:
Theo Indra
1204122065
![]() |
PROGRAM
STUDI D3 PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014
BANDAR LAMPUNG
2014
DAFTAR ISI
Halaman
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................................. 2
II. TINJAUAN
PUSTAKA
III. METODOLOGI
3.1 Alat Dan Bahan................................................................................... 11
3.2 Prosedur Kerja..................................................................................... 11
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan................................................................................ 13
4.2 Pembahasan......................................................................................... 14
4.2.1 Pertumbuhan Tinggi Tanaman
14
4.2.2 Jumlah daun 15
V. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tebu (Saccharum officinarum Linn)
adalah tanaman untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah
beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak
ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu
banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera tanaman tebu dapat tumbuh
hingga 3 meter di kawasan yang mendukung dan ketika dewasa hampir seluruh
daun-daunnya mengering, namun masih mempunyai beberapa daun hijau. Sebelum
panen, jika memungkinkan, seluruh tanaman tebu dibakar untuk menghilangkan
daun-daun yang telah kering dan lapisan lilin. Api membakar pada suhu yang
cukup tinggi dan berlangsung sangat cepat sehingga tebu dan kandungan gulanya
tidak ikut rusak. Bentuk fisik tanaman tebu dicirikan oleh terdapatnya bulu-bulu
dan duri sekitar pelepah dan helai daun. Banyaknya bulu dan duri beragam
tergantung varietas. Jika disentuh akan menyebabkan rasa gatal. Kondisi ini
kadang menjadi salah satu penyebab kurang berminatnya petani berbudidaya tebu
jika masih ada alternatif tanaman lain. Tinggi tanaman bervariasi tergantung
daya dukung lingkungan dan varietas, antara 2,5-4 meter dengan diameter batang
antara 2-4 cm.
Daerah yang baik untuk penanaman tebu
adalah di daerah yang termasu dataran rendah yang kering. Iklim panas yang
lembab dengan suhu antara 25ºC-28ºC. Memiliki curah hujan yang kurang dari 100
mm/tahun. Tanah tidak terlalu masam, pH diatas 6,4. Ketinggian kurang
dari 500 m dpl. Agar tanaman tebu mengandung kadar gula yang tinggi, harus
diperhatikan musim tanamnya. Pada waktu masih muda tanaman tebu memerlukan
banyak air dan ketika mulai tua memerlukan musim kemarau yang panjang. Tanaman tebu memiliki 5 stadium pertumbuhan yaitu fase
perkecambahan, pertunasan, pemanjangan batang, kemasakan dan kematian,
kebutuhan akan sumberdaya air pada setiap stadium berbeda. Stadium
perkecambahan sampai pemanjangan batang dapat dikatakan menghendaki kebutuhan
air yang sangat banyak. Namun pada fase kemasakan dan bahkan kematian,
kebutuhan terhadap air justru pada kondisi yang lebih sedikit untuk
mengoptimalkan pengisiaan gula dalam batang. Hal yang lain yang berkaitan
dengan kebutuhan hidup tanaman tebu adalah secara agregat setiap sumber daya
alam selalu dibutuhkan, meskipun kuantitasnya dapat berlainan antara setiap
fase pertumbuhannya.
Agar dapat diperoleh hasil gula yang
optimal diperlukan konsistensi pengelolaan yang prima sejak pembukaan lahan
sampai tebu dipanen dan digiling, mengingat kualitas suatu fase pertumbuhan
menentukan pertumbuhan berikutnya dan kualitas bahan baku akan menentukan
sejauh mana potensi gula yang ada di batang dapat dijadikan gula kristal yang
diharapkan. Salah satu yang harus diwaspadai adalah ketidak konsistenan pada
saat panen, tebu yang ditanam dan dipelihara dengan baik hasil gulanya kurang
menggembirakan karena kehilangan gula yang cukup besar saat panen akibat mutu
tebang dan angkut kurang baik.
1.2 Tujuan
Tujuan
dari praktikum pupuk dan pemupukan Budidaya tanaman tebu yang telah dilakukan
adalah:
1. Mengetahui cara perbanyakan tebu dengan cara stek.
2. Mengetahui cara pemupukan pada tanaman tebu.
3. Mengetahui pupuk yg tepat untuk budidaya
tanaman tebu.
4.
Mengetahui pengaruh masing-masing pupuk
yang diberikan terhadap pertumbuhan tanaman tebu.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Morfologi tanaman tebu
Tebu
(Saccharum officinarum L) merupakan salah satu tanaman penting sebagai
penghasil gula, lebih dari setengah produksi gula dunia berasal dari tebu ,Ciri
dari tanaman tebu memililiki sistem perakaran serabut, batangnya
berbentuk silinder beruas-ruas, berwarna hijau hingga hijau kenuningan,
memiliki cincin yang tumbuh melingkar, daun berbentuk panjang dengan tulang
daun sejajar dengan ukuran lebar daun sekitar 4 -7 cm. Menurut Atjung (1990),
ciri dari tebu yaitu batang yang beruas 2-5 m, tidak bercabang, warna
batang ada yang hijau, ungu, kuning, dan merah tua. Kulit batangnya berlilin
berwarna putih kelabu, akarnya serabut, bentuk daun panjangnya 1-2 m
seperti pita dan lebar daunnya 5-7 cm. Bunga- bunga yang berkumpul
merupakan malai yang eluar dari ujung batang pada musim kemarau, kemudian bunga
itu menjadi bah berbiji tunggal. (Suwarto dan Octavianty 2010).
Morfologi batang tebu, batang tebu biasanya
tumbuh tegak atau berdiri lurus mencapai ketinggian antara 2,5 m – 4 m atau
lebih, batang dari tanaman tebu tersusun dari ruas-ruas dan diantara ruas-ruas
tersebut dibatasi oleh buku-buku ruas dimana terletak mata yang dapat tumbuh
menjadi kuncup tanaman baru. Disamping itu terdapat mata akar tempat keluarnya
akar untuk kehidupan kuncup tersebut, yang perlu diperhatikan untuk mempelajari
tanda pengenal yang terdapat pada batang yaitu harus benar-benar diperhatikan
bentuk ruasnya, disamping itu juga sifat-sifat yang terdapat pada ruas itu
sendiri.
Morfologi dari daun tebu, dimana daun tebu
sendiri merupakan daun yang tidak lengkap karena hanya tersusun dari pelepah
daun dan helai daun, pada daun tebu sendiri tidak memiliki tangkai daun.
Diantara pelepah daun dan helai daun bagian sisi luar terdapat sendi segitiga
daun, sedangkan pada sisi bagian dalamnya terdapat lidah daun. Selain itu juga
terdapat bulu-bulu dan duri di sekitar pelepah dan helai daun. Adanya bulu pada
daun tebu juga menyebabkan gatal pada kulit jika kita bersentuhan langsung
dengan daunnya. Kondisi ini kadang membuat kurang berminatnya petani
membudidayakan tebu jika masih ada alternatif tanaman lain untuk dibudidayakan.
Hal yang perlu diperhatikan untuk mempelajari tanda pengenal pada daun tanaman
tebu ini yaitu dengan memperhatikan pelepah daun dan bagian-bagiannya, terutama
bulu bidang punggung dan telinga dalam.
Morfologi mata tunas tebu, dimana mata tunas
sendiri adalah kuncup tebu yang terletak pada buku-buku ruas batang.
Kuncup-kuncup ini berada di ujung pangkal sebelah kanan dan sebelah kiri secara
bergantian. Mata tunas ini selalu terlindungi oleh pelepah daun karena
keberadaannya yang tepat dibawak ketiak daun. Hal yang perlu diperhatikan dalam
mempelajari tanda-tanda dari mata tunas yaitu dengan tepi sayap mata, rambut
jambul dan rambut tepi basal mata. Morfologi bunga tebu, bunga
tebu sendiri tersusun dalam malai dan bentuknya piramida dengan panjang antara
50 cm-80 cm. cabang bunga tahap pertama merupakan karangan bunga, sedangkan
cabang bunga tahap kedua merupakan tandan buah (Annonymous,
2009).
2.2 Fisiologi tanaman tebu
Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase :
1. Fase Perkecambahan
1. Fase Perkecambahan
Fase perkecambahan adalah
perubahan mata tunas tebu yang dorman menjadi aktif menjadi tunas tebu muda
atau kecambah. Fase ini dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek
pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu.
Kebutuhan ekstrinsik yang diperlukan yaitu O2, air, dan sinar matahari,
sedangkan kebutuhan intrinsik seperti hormon sudah tersedia di dalam stek.
Perkecambahan yang baik berarti modal pokok dalam budidaya tebu dan tunas
kecambah akan dianggap memadai bila ada 3-4 kecambah per meter juringan.
2. Fase Pertunasan
Fase pertunasan dimulai dari umur 5 minggu sampai umur 3,5 bulan. Proses keluarnya tunas-tunas/anakan dari pangkal tebu muda mulai berlangsung pada umur 1,5 bulan sampai umur 3-4 bulan tergantung dari varietasnya. Proses pertunasan membutuhkan air, sinar matahari, oksigen, hara N dan P. Pertunasan yang baik terjadi jika setiap rumpun terdiri dari 1 batang induk tebu dengan 4-6 tunas anakan.
Fase pertunasan dimulai dari umur 5 minggu sampai umur 3,5 bulan. Proses keluarnya tunas-tunas/anakan dari pangkal tebu muda mulai berlangsung pada umur 1,5 bulan sampai umur 3-4 bulan tergantung dari varietasnya. Proses pertunasan membutuhkan air, sinar matahari, oksigen, hara N dan P. Pertunasan yang baik terjadi jika setiap rumpun terdiri dari 1 batang induk tebu dengan 4-6 tunas anakan.
3. Fase Perpanjangan Batang
Fase perpanjangan batang atau
pertumbuhan besar berlangsung selama 6 bulan. Dimulai pada umur 3,5 bulan
sampai 9 bulan. Pada fase ini biomassa tebu bertambah secara eksponensial
dengan daun bertambah banyak, batang membesar diameternya, dan terutama batang
bertambah panjang dengan menumbuhkan ruas-ruasnya.
4. Fase Pengisian Gula
Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Fase ini dikenal dengan fase kemasakan karena proses pengisian gula hasil fotosintesis yang terjadi lebih besar daripada perombakan gula untuk pertumbuhan vegetatif tebu. Pada fase ini air di tanah harus sudah menipis sampai habis, kadar N di tanah sudah habis dan atau beda suhu udara malam-siang besar sekali. Kondisi lingkungan ini biasanya terjadi di akhir musim hujan yakni Mei sampai Juli. Sedangkan sumber sinar matahari harus penuh menyinari tajuk tebu. Jika kondisi yang diharapkan tidak terjadi maka dapat diberikan zat pemacu kemasakan. Pada fase ini gula didalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan Agustus,dan setelah itu remdemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula.
Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Fase ini dikenal dengan fase kemasakan karena proses pengisian gula hasil fotosintesis yang terjadi lebih besar daripada perombakan gula untuk pertumbuhan vegetatif tebu. Pada fase ini air di tanah harus sudah menipis sampai habis, kadar N di tanah sudah habis dan atau beda suhu udara malam-siang besar sekali. Kondisi lingkungan ini biasanya terjadi di akhir musim hujan yakni Mei sampai Juli. Sedangkan sumber sinar matahari harus penuh menyinari tajuk tebu. Jika kondisi yang diharapkan tidak terjadi maka dapat diberikan zat pemacu kemasakan. Pada fase ini gula didalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan Agustus,dan setelah itu remdemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula.
5. Fase Kematian
Fase ini dapat datang lebih awal atau bahkan tidak terjadi sama sekali, bergantung pada keterdiaan air di tanah. Pada fase ini tebu mulai kekurangan nira dan air dalam tubuhnya sehingga berat dan rendemennya menurun. Upaya untuk mencegah berlanjutnya fase ini adalah dengan pengairan yang ditujukan untuk mempertahankan batang-batang tua yang mengalami dehidrasi.
Fase ini dapat datang lebih awal atau bahkan tidak terjadi sama sekali, bergantung pada keterdiaan air di tanah. Pada fase ini tebu mulai kekurangan nira dan air dalam tubuhnya sehingga berat dan rendemennya menurun. Upaya untuk mencegah berlanjutnya fase ini adalah dengan pengairan yang ditujukan untuk mempertahankan batang-batang tua yang mengalami dehidrasi.
2.3 Taksonomi tanaman tebu
Tebu merupakan tumbuhan monokotil dari famili
rumput-rumputan (Gramineae), Batang tanaman tebu memiliki memiliki anakan
tunas dari pangkal batang yang membentuk rumpun. Tanaman ini memerlukan waktu
musim tanam sepanjang 11- 12 bulan. Tanaman ini berasal dari daerah tropis
basah sebagai tanaman liar.
Dalam system taksonomi tumbuhan,
kedudukan tebu diklasifikasikan seperti berikut.
Divisi : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Subdivisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Ordo : Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas : Monocotylidonae (biji berkeping satu)
Famili : Graminae (Poaceae)
Subfamili : Andropogonae
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum offinarum linn (tebu) ; Saccharum spontaneum (gelagah)
Divisi : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Subdivisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Ordo : Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas : Monocotylidonae (biji berkeping satu)
Famili : Graminae (Poaceae)
Subfamili : Andropogonae
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum offinarum linn (tebu) ; Saccharum spontaneum (gelagah)
2.4 Pupuk organik
Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman,hewan, dan manusia.Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair
yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya.
Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa
panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa),limbah pupuk organik yang penting seperti penyediaan hara
Makro (Nitrogen,Fosfor,Kalium,Kalsium,Magnesium,
dan Sulfur) dan Mikro seperti Zink,Tembaga, Kobalt, Barium, Mangan,dan besi,.
Meskipun jumlahnya relative sedikit unsure hara makro dan mikro tersebut sangat
dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.
Pupuk organik adalah semua sisa
bahan tanaman, pupuk hijau, dan kotoran hewan yang mempunyai kandungan unsure
hara rendah. Pupuk organic tersedia setelah zat tersebut mengalami proses
pembusukan oleh mikro organisme.
Macam-macam pupuk organik adalah sebagi berikut:
1. Kompos
Pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat
dengan cara membusukkan sisa-sisa tanaman. Pupuk jenis ini berfungsi sebagai
pemberi unsure-unsur hara yang berguna untuk perbaikan struktur tanah.
2. Pupuk Hijau
Pupuk hijau adalah bagian tumbuhan
hijau yang mati dan tertimbun dalam tanah. Pupuk organic jenis ini mempunyai
perimbangan C/N rendah, sehingga dapat terurai dan cepat tersedia bagi tanaman.
Pupuk hijau sebagai sumber nitrogen cukup baik di daerah tropis, yaitu sebagai
pupuk organic sebagi penambah unsure mikro dan perbaikan struktur tanah.
3. Pupuk kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang
berasal dari kotoran hewan. Kandungan hara dalam puouk kandang rata-rata
sekitar 55% N, 25% P2O5, dan 5% K2O
(tergantung dari jenis hewan dan bahan makanannya). Makin lama pupuk kandang
mengalamai proses pembusukan, makin rendah perimbangan C/N-nya (Anonymous 2012
).
2.5 Pupuk
NPK (Nitrogen Phospate Kalium)
Pupuk NPK
merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara utama lebih dari dua jenis.
Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15 % dalam bentuk NH3, fosfor
15 % dalam bentuk P2O5, dan kalium 15 % dalam bentuk K2O.
Sifat Nitrogen (pembawa nitrogen ) terutama dalam bentuk amoniak akan menambah
keasaman tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Ketiga unsur dalam
pupuk NPK membantu pertumbuhan tanaman dalam tiga cara. Penjelasan singkatnya
adalah sebagai berikut:
N – nitrogen: membantu pertumbuhan vegetatif, terutama daun
P – fosfor: membantu pertumbuhan akar dan tunas
K – kalium: membantu pembungaan dan pembuahan
Pupuk NPK adalah pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat yang mengandung unsur hara utama Nitrogen, Fosfor, dan Kalium.Pupuk NPK merupakan salah satu jenis Pupuk Majemuk yang paling umum digunakan. (Hardjowigeno, 1992).
2.6 Pupuk dan pemupukan
Pupuk adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang
organik maupun anorganik dengan maksud untuk mengganti kehilangan unsur hara
dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam
keadaan faktor keliling atau lingkungan yang baik Sebelum melakukan pemupukan,
beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:Tanaman yang akan dipupuk, Jenis
tanah yang akan dipupuk, Jenis pupuk yang digunakan, Jumlah (dosis) pupuk yang
digunakan, Waktu pemupukan, Cara Pemupukan. Cara pemupukan dengan berkembangnya
teknologi pertaniandan industri, telah melahirkan berbagaiproduk yang cara
pemberiannya lain daribiasanya, namun secara garis besar dapatdikelompokkan
menjadi dua carapemberian/memupuk, yakni memupuk dengan cara pemberian melalui
akar memupuk dengan cara pemberian melalui daun.
Memupuk melalui
akar disebar (broad casting)Pupuk yang disebarkan merata pada tanah-tanah di
sekitar pertanaman atau pada waktu pembajakan/penggaruan terakhir, sehari
sebelum tanam,kemudian diinjak-injak agar pupuk masuk ke dalam tanah..Kerugian cara
ini ialah merangsang pertumbuhan rumput pengganggu/gulma dankemungkinan
pengikatan unsur hara tertentu oleh tanah lebih tinggi. Memupuk melalui
daunn,pupuk yang dilarutkan ke dalam air dengan konsentrasi sangat rendah
kemudian disemprotkan langsung kepada daun dengan alat penyemprot biasa (Hand
Sprayer). (Novitam ,1999).
III. METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum ini
meliputi: sabit, cangkul, koret, gembor, penggaris, meteran, timbangan gantung,
kamera.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi: tanaman tebu, air,
pupuk (NPK, kompos atau organik), plastik mika untuk label, tali nilon, dan
bilahan bambu.
3.2 Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah
sebagai berikut:
A. Pembukaan dan
pengolahan lahan
1.
Dibersihkan lahan dari sisa-sisa akar dan serasah
2. Dibuang dan ditumpuk serasah ditempat
pembuangan sampah
3. Diukur setiap plot dengan ukuran 4x5 meter
4. Digemburkan tanah dengan dicangkul sampai
struktur tanahnya remah
5. Dibuat guludan-guludan tanah sebanyak 6
guludan
B. Penanaman Tebu
1. Pemilihan bibit tebu yang segar dan sehat
2. Bibit tebu dipotong 2 buku utuh dibagian
tengahnya, bagian atas dan bawahnya dibekaskan setengah potongan
3. Ditanam tebu diantara guludan dengan posisi
mata tunas diletakkandisamping, penanaman dibuat sambung menyambung
4. Ditutup bibit tebu menggunakan tanah
5. Disiram tanaman tebu dengan air
C. Pemupukan Tebu
1. Ditimbang pupuk setiap perlakuan masing-masing
2. Dibuat rorak diinggir guludan
3. Ditaburkan pupuk dirorak yang telah dibuat dan
ditutup tanah lagi
4. Tanaman yang telah dipupuk disiram dengan air
D. Perawatan dan PenyulamanTanaman Tebu
1. Dibersihkan gulma yang tumbuh diguludan
2. Dibuat label setiap plot kelompok tanaman tebu
3. Dipasang label kelompok di bilahan bambu dan
ditancapkan
4. Disulam tanaman tebu yang mati dengan bibit
yang baru
5. Dilakukan penyiraman tanaman tebu setiap hari
E. Pengamatan Pertumbuhan Tanaman Tebu
1. Diukur tinggi tanaman tebu
2. Dihitung jumlah daun tanaman tebu
3. Dicatat dan dihitung rata-rata tinggi dan
jumlah daun tanaman tebu
4. Diamati tanaman dari hama dan penyakit jika
terdapat gejala tertentu
5. Dilakukan pengamatan tanaman tebu setiap satu
minggu
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman tebu semua perlakuan pada
pengamatan minggu ke-8.
Perlakuan
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
NPK
|
126,93
|
11
|
Kompos
|
126,46
|
10
|
½ Kompos + NPK
|
126,26
|
10
|
½ NPK + Kompos
|
126
|
11
|
Kontrol
|
117,66
|
10
|

Gambar
1. Rata-rata tinggi tanaman dan jumlah
daun tanaman tebu pada pengamatan minggu ke-8.
4.2
Pembahasan
Dari tabel di atas
terlihat bahwa tinggi tanaman pada semua perlakuan berbeda
beda,tanaman tertinggi pada praktikum pupuk dan
pemupukan yang dilakukan pada lahan seluas 20 m².
Dari semua perlakuan yang dilakukan
oleh semua kelompok ,terdapat 5 perlakuan yaitu
1. NPK
(Urea 600 gr,TSP 300 gr,KCL 600 gr)/plot
2. Kompos
(20 kg/plot)
3. NPK
(Urea 600 gr,TSP 300 gr,KCL 600 gr)/plot + ½ Kompos (10 kg/plot)
4. ½
NPK (Urea 300 gr,TSP 150 gr,KCL 300 gr)/plot + Kompos (20 kg/plot)
5. Kontrol
.
4.2.1
Pertumbuhan Tinggi Tanaman
Tinggi
tanaman menggambarkan pertumbuhan dari tanaman tersebut, dengan demikian dapat
dikatakan semakin tinggi tanamannya maka pertumbuhan tanaman semakin baik. Tanaman
dengan rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada
umur 8 minggu. yaitu dengan perlakuan pupuk NPK dengan tinggi
126,93 cm. dan
rata-rata tinggi tanaman terendah yaitu dengan perlakuan kontrol dengan tinggi
tanaman 117,66 cm.
tinggi tanaman tiap perlakuan berbeda-beda
karena dipengaruhi oleh unsur hara yang tersedia dari perlakuan yang dilakukan.
Tanaman mengandung cukup N akan
menunjukkan warna daun hijau tua yang artinya kadar klorofil dalam daun tinggi.
Sebaliknya apabila tanaman kekurangan atau defisiensi N maka daun akan
menguning (klorosis) karena kukarangan klorofil. Pertumbuhan tanaman lambat,
lemah dan tanaman menjadi kerdil juga bisa disebabkan oleh kekurangan N.
Tanaman cepat masak bisa disebabkan oleh kekurangan N. Defisiensi N juga dapat
meningkatkan dan menurunkan produksi dan kualitas.Kuntohartono (1999)
4.2.2
Jumlah daun
Dari tabel jumlah daun terlihat terdapat perbedaan jumlah daun pada
berbagai perlakuan pada pengamatan minggu ke 8 . jumlah daun Rata-rata yang
paling banyak yaitu pada perlakuan NPK,dan ½ NPK+KOMPOS dengan masing masing
pertumbuhan-ratanya adalah 11 helai daun.sedangkan pada perlakuan KONTROL,KOMPOS dan
NPK+1/2KOMPOS mempunyai rata-rata jumlah daun yang paling sedikit dengan
pertumbuhan rata-ratanya adalah 10 helai daun.. Masalah dosis yang tepat per satuan
luas, bagaimana caranya memupuk, berapa frekuensi aplikasi dan jenis apa yang paling
efisien akan berbeda disetiaptempat, karena adanya perbedaan jenis tanah,
kandungan hara dalam tanah, iklim,mikro, dan lain lain. Pemberian pupuk
nitrogen sangat menentukan pertumbuhant
tanaman indikatornya terlihat jelas pada ukuran daun, tinggi batang, luas
permukaan daun dan jumlah tunas. Kekurangan unsur ini membuat pertumbuhan
tanaman merana, ukuran daun mengecil, kurus dan berwarna kekuningan. (Setiadi, 2006).
V.KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari
praktikum ini adalah
1.
Tanaman dengan rata-rata tinggi tanaman
tertinggi pada umur 8 minggu. yaitu dengan perlakuan pupuk NPK dengan tinggi
126,93 cm. dan rata-rata tinggi tanaman terendah yaitu dengan perlakuan kontrol
dengan tinggi tanaman 117,66 cm.
2. Semakin
tinggi dosis pupuk NPK yang diberikan hasil yang diperoleh makin tinggi.
3. Aplikasi
konsentrasi kompos pada pemberian pupuk NPK dosis tinggi menunjukkan
pertumbuhan tebu relatif lebih baik dibanding pada pemberian dosis pupuk NPK
yang rendah.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonymous ,2012.Pemupukan.http://pengertian-defenisi
blogspot.com/2010/10/pemupukan.html. tanggal 11 Desember 2014.
Anonymousa,2012.Pupuk.http://id.wikipedia.org/wiki/pupuk Diakses
tanggal 14 Desember 2014.
Gautara dan Wijadi. 1975. Dasar Pengolahan Gula I. Bogor :
departemen Teknologi Hasil Pertanian Fateta, IPB.
Moerdokusumo. 1993. Pengawasan Kualitas Dan Teknologi pembuatan
Gula Di Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.
Sastrowijono, Soejoto.
1998. Cara Mengenal Klon-klon tebu Secara
Morfologis. Pusat Penelitian Perkebunan Indonesia Pasuruan.
Soemarno.1991. Dasar-dasar Teknologi Gula. Yogyakarta: LPP Yogyakarta.
Sutardjo, Edhi. 2005. Budidaya Tanaman
Tebu. Bumi Aksara. Jakarta.
Suwarto dan Octavianty, Yuke. 2010 Budidaya
Tanaman Perkebunan Unggulan. Jakarta.
Penebar Swadaya
LAMPIRAN
Tabel
2. Pengamatan Rata Rata Tinggi Tanaman
Tebu Semua Perlakuan
Perlakuan
|
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
Minggu 1
|
25,93
|
17,89
|
12,74
|
20,47
|
20,37
|
Minggu 2
|
43,54
|
33,93
|
32,19
|
53,3
|
37,23
|
Minggu 3
|
60,6
|
47,24
|
50,43
|
54,97
|
53,07
|
Minggu 4
|
70,53
|
66,87
|
62,05
|
69,3
|
70,47
|
Minggu 5
|
85
|
86,93
|
70,8
|
78,87
|
82,03
|
Minggu 6
|
95,03
|
94,87
|
84,8
|
94,2
|
96,6
|
Minggu 7
|
108,7
|
107,3
|
103
|
109,1
|
108,2
|
Minggu 8
|
126,9
|
126,5
|
126,2
|
126
|
117,9
|

Gambar. 2. Grafik Rata-rata Tinggi Tanaman Tebu Pada
Semua Perlakuan
Tabel
3. Pengamatan Rata Rata Jumlah Daun
Tanaman Tebu Semua Perlakuan
Perlakuan
|
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
Minggu 1
|
3
|
3
|
3
|
3
|
4
|
Minggu 2
|
4
|
4
|
6
|
5
|
5
|
Minggu 3
|
5
|
5
|
6
|
6
|
6
|
Minggu 4
|
6
|
6
|
6
|
7
|
6
|
Minggu 5
|
7
|
8
|
7
|
8
|
8
|
Minggu 6
|
8
|
9
|
8
|
9
|
9
|
Minggu 7
|
10
|
9
|
9
|
11
|
10
|
Minggu 8
|
11
|
10
|
10
|
11
|
10
|
Gambar. 3. Grafik Rata-rata Jumlah Daun Tanaman Tebu Pada Semua Perlakuan

Tabel.4. Hasil
Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Tebu Selama 8 Minggu
Sampel
|
Tinggi
Tebu
|
Jumlah
Daun
|
1
|
74
|
7
|
2
|
106
|
8
|
3
|
67
|
6
|
4
|
111
|
10
|
5
|
113
|
8
|
Rata-rata
|
94,2
|
7,8
|

Gambar 4. Diagram
Batang Tinggi dan Jumlah Daun Tebu
Komentar
Posting Komentar