PENGARUH PUPUK ORGANONITROFOS NPK DAN KOMBINASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN TEBU ( Saccharum officinarum L )









PENGARUH PUPUK ORGANONITROFOS NPK DAN KOMBINASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN TEBU
( Saccharum officinarum L )
(Laporan Praktikum Mata kuliah Pupuk Dan Pemupukan)







Oleh:
Theo Indra
1204122065








download (4).jpg
 
















PROGRAM STUDI D3 PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
201
4






DAFTAR ISI




                                                                                                                     Halaman
I.    PENDAHULUAN                            
      1.1 Latar Belakang....................................................................................         1
      1.2 Tujuan..................................................................................................         2
II.  TINJAUAN PUSTAKA
III. METODOLOGI
      3.1 Alat Dan Bahan...................................................................................       11
      3.2 Prosedur Kerja.....................................................................................       11
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
      4.1 Hasil Pengamatan................................................................................       13 

      4.2 Pembahasan.........................................................................................       14
          4.2.1 Pertumbuhan Tinggi Tanaman                                                            14
          4.2.2 Jumlah daun                                                                                        15

V.  KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN














I PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang


 Tebu (Saccharum officinarum Linn) adalah tanaman untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera tanaman tebu dapat tumbuh hingga 3 meter di kawasan yang mendukung dan ketika dewasa hampir seluruh daun-daunnya mengering, namun masih mempunyai beberapa daun hijau. Sebelum panen, jika memungkinkan, seluruh tanaman tebu dibakar untuk menghilangkan daun-daun yang telah kering dan lapisan lilin. Api membakar pada suhu yang cukup tinggi dan berlangsung sangat cepat sehingga tebu dan kandungan gulanya tidak ikut rusak. Bentuk fisik tanaman tebu dicirikan oleh terdapatnya bulu-bulu dan duri sekitar pelepah dan helai daun. Banyaknya bulu dan duri beragam tergantung varietas. Jika disentuh akan menyebabkan rasa gatal. Kondisi ini kadang menjadi salah satu penyebab kurang berminatnya petani berbudidaya tebu jika masih ada alternatif tanaman lain. Tinggi tanaman bervariasi tergantung daya dukung lingkungan dan varietas, antara 2,5-4 meter dengan diameter batang antara 2-4 cm.

Daerah yang baik untuk penanaman tebu adalah di daerah yang termasu dataran rendah yang kering. Iklim panas yang lembab dengan suhu antara 25ºC-28ºC. Memiliki curah hujan yang kurang dari 100 mm/tahun.  Tanah tidak terlalu masam, pH diatas 6,4. Ketinggian kurang dari 500 m dpl. Agar tanaman tebu mengandung kadar gula yang tinggi, harus diperhatikan musim tanamnya. Pada waktu masih muda tanaman tebu memerlukan banyak air dan ketika mulai tua memerlukan musim kemarau yang panjang. Tanaman tebu memiliki 5 stadium pertumbuhan yaitu fase perkecambahan, pertunasan, pemanjangan batang, kemasakan dan kematian, kebutuhan akan sumberdaya air pada setiap stadium berbeda. Stadium perkecambahan sampai pemanjangan batang dapat dikatakan menghendaki kebutuhan air yang sangat banyak. Namun pada fase kemasakan dan bahkan kematian, kebutuhan terhadap air justru pada kondisi yang lebih sedikit untuk mengoptimalkan pengisiaan gula dalam batang. Hal yang lain yang berkaitan dengan kebutuhan hidup tanaman tebu adalah secara agregat setiap sumber daya alam selalu dibutuhkan, meskipun kuantitasnya dapat berlainan antara setiap fase pertumbuhannya.

Agar dapat diperoleh hasil gula yang optimal diperlukan konsistensi pengelolaan yang prima sejak pembukaan lahan sampai tebu dipanen dan digiling, mengingat kualitas suatu fase pertumbuhan menentukan pertumbuhan berikutnya dan kualitas bahan baku akan menentukan sejauh mana potensi gula yang ada di batang dapat dijadikan gula kristal yang diharapkan. Salah satu yang harus diwaspadai adalah ketidak konsistenan pada saat panen, tebu yang ditanam dan dipelihara dengan baik hasil gulanya kurang menggembirakan karena kehilangan gula yang cukup besar saat panen akibat mutu tebang dan angkut kurang baik.

1.2  Tujuan

Tujuan dari praktikum pupuk dan pemupukan Budidaya tanaman tebu yang telah dilakukan adalah:
1.  Mengetahui cara perbanyakan tebu dengan cara stek.
2.  Mengetahui cara pemupukan pada tanaman tebu.
3.  Mengetahui pupuk yg tepat untuk budidaya tanaman tebu.
4.  Mengetahui pengaruh masing-masing pupuk  yang diberikan terhadap pertumbuhan tanaman tebu.












II. TINJAUAN PUSTAKA




2.1  Morfologi tanaman tebu

Tebu (Saccharum officinarum L) merupakan salah satu tanaman penting sebagai penghasil gula, lebih dari setengah produksi gula dunia berasal dari tebu ,Ciri dari tanaman tebu memililiki sistem perakaran serabut,  batangnya berbentuk silinder beruas-ruas, berwarna hijau hingga hijau kenuningan, memiliki cincin yang tumbuh melingkar, daun berbentuk panjang dengan tulang daun sejajar dengan ukuran lebar daun sekitar 4 -7 cm. Menurut Atjung (1990), ciri dari tebu yaitu batang yang  beruas 2-5 m, tidak bercabang, warna batang ada yang hijau, ungu, kuning, dan merah tua. Kulit batangnya berlilin berwarna putih kelabu, akarnya serabut,  bentuk daun panjangnya 1-2 m seperti pita dan lebar daunnya 5-7 cm. Bunga- bunga yang berkumpul merupakan malai yang eluar dari ujung batang pada musim kemarau, kemudian bunga itu menjadi bah berbiji tunggal. (Suwarto dan Octavianty 2010).

Morfologi batang tebu, batang tebu biasanya tumbuh tegak atau berdiri lurus mencapai ketinggian antara 2,5 m – 4 m atau lebih, batang dari tanaman tebu tersusun dari ruas-ruas dan diantara ruas-ruas tersebut dibatasi oleh buku-buku ruas dimana terletak mata yang dapat tumbuh menjadi kuncup tanaman baru. Disamping itu terdapat mata akar tempat keluarnya akar untuk kehidupan kuncup tersebut, yang perlu diperhatikan untuk mempelajari tanda pengenal yang terdapat pada batang yaitu harus benar-benar diperhatikan bentuk ruasnya, disamping itu juga sifat-sifat yang terdapat pada ruas itu sendiri. 

Morfologi dari daun tebu, dimana daun tebu sendiri merupakan daun yang tidak lengkap karena hanya tersusun dari pelepah daun dan helai daun, pada daun tebu sendiri tidak memiliki tangkai daun. Diantara pelepah daun dan helai daun bagian sisi luar terdapat sendi segitiga daun, sedangkan pada sisi bagian dalamnya terdapat lidah daun. Selain itu juga terdapat bulu-bulu dan duri di sekitar pelepah dan helai daun. Adanya bulu pada daun tebu juga menyebabkan gatal pada kulit jika kita bersentuhan langsung dengan daunnya. Kondisi ini kadang membuat kurang berminatnya petani membudidayakan tebu jika masih ada alternatif tanaman lain untuk dibudidayakan. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempelajari tanda pengenal pada daun tanaman tebu ini yaitu dengan memperhatikan pelepah daun dan bagian-bagiannya, terutama bulu bidang punggung dan telinga dalam.

Morfologi mata tunas tebu, dimana mata tunas sendiri adalah kuncup tebu yang terletak pada buku-buku ruas batang. Kuncup-kuncup ini berada di ujung pangkal sebelah kanan dan sebelah kiri secara bergantian. Mata tunas ini selalu terlindungi oleh pelepah daun karena keberadaannya yang tepat dibawak ketiak daun. Hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari tanda-tanda dari mata tunas yaitu dengan tepi sayap mata, rambut jambul dan rambut tepi basal mata. Morfologi bunga tebu, bunga tebu sendiri tersusun dalam malai dan bentuknya piramida dengan panjang antara 50 cm-80 cm. cabang bunga tahap pertama merupakan karangan bunga, sedangkan cabang bunga tahap kedua merupakan tandan buah (Annonymous, 2009).

2.2  Fisiologi tanaman tebu

Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase :
1.  Fase Perkecambahan
Fase perkecambahan adalah perubahan mata tunas tebu yang dorman menjadi aktif menjadi tunas tebu muda atau kecambah. Fase ini dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu. Kebutuhan ekstrinsik yang diperlukan yaitu O2, air, dan sinar matahari, sedangkan kebutuhan intrinsik seperti hormon sudah tersedia di dalam stek. Perkecambahan yang baik berarti modal pokok dalam budidaya tebu dan tunas kecambah akan dianggap memadai bila ada 3-4 kecambah per meter juringan.

2.  Fase Pertunasan
Fase pertunasan dimulai dari umur 5 minggu sampai umur 3,5 bulan. Proses keluarnya tunas-tunas/anakan dari pangkal tebu muda mulai berlangsung pada umur 1,5 bulan sampai umur 3-4 bulan tergantung dari varietasnya. Proses pertunasan membutuhkan air, sinar matahari, oksigen, hara N dan P. Pertunasan yang baik terjadi jika setiap rumpun terdiri dari 1 batang induk tebu dengan 4-6 tunas anakan.

3.  Fase Perpanjangan Batang
Fase perpanjangan batang atau pertumbuhan besar berlangsung selama 6 bulan. Dimulai pada umur 3,5 bulan sampai 9 bulan. Pada fase ini biomassa tebu bertambah secara eksponensial dengan daun bertambah banyak, batang membesar diameternya, dan terutama batang bertambah panjang dengan menumbuhkan ruas-ruasnya.

4.  Fase Pengisian Gula
Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Fase ini dikenal dengan fase kemasakan karena proses pengisian gula hasil fotosintesis yang terjadi lebih besar daripada perombakan gula untuk pertumbuhan vegetatif tebu. Pada fase ini air di tanah harus sudah menipis sampai habis, kadar N di tanah sudah habis dan atau beda suhu udara malam-siang besar sekali. Kondisi lingkungan ini biasanya terjadi di akhir musim hujan yakni Mei sampai Juli. Sedangkan sumber sinar matahari harus penuh menyinari tajuk tebu. Jika kondisi yang diharapkan tidak terjadi maka dapat diberikan zat pemacu kemasakan. Pada fase ini gula didalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan Agustus,dan setelah itu remdemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula.

5.  Fase Kematian
Fase ini dapat datang lebih awal atau bahkan tidak terjadi sama sekali, bergantung pada keterdiaan air di tanah. Pada fase ini tebu mulai kekurangan nira dan air dalam tubuhnya sehingga berat dan rendemennya menurun. Upaya untuk mencegah berlanjutnya fase ini adalah dengan pengairan yang ditujukan untuk mempertahankan batang-batang tua yang mengalami dehidrasi.

2.3  Taksonomi tanaman tebu

Tebu merupakan tumbuhan monokotil dari famili rumput-rumputan (Gramineae), Batang tanaman tebu memiliki memiliki anakan tunas dari pangkal batang yang membentuk rumpun. Tanaman ini memerlukan waktu musim tanam sepanjang 11- 12 bulan. Tanaman ini berasal dari daerah tropis basah sebagai tanaman liar.
Dalam system taksonomi tumbuhan, kedudukan tebu diklasifikasikan seperti berikut.
Divisi : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Subdivisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Ordo : Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas : Monocotylidonae (biji berkeping satu)
Famili : Graminae (Poaceae)
Subfamili : Andropogonae
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum offinarum linn (tebu) ; Saccharum spontaneum (gelagah)

2.4  Pupuk organik

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman,hewan, dan manusia.Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa),limbah pupuk organik yang penting seperti penyediaan hara
Makro (Nitrogen,Fosfor,Kalium,Kalsium,Magnesium, dan Sulfur) dan Mikro seperti Zink,Tembaga, Kobalt, Barium, Mangan,dan besi,. Meskipun jumlahnya relative sedikit unsure hara makro dan mikro tersebut sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk organik adalah semua sisa bahan tanaman, pupuk hijau, dan kotoran hewan yang mempunyai kandungan unsure hara rendah. Pupuk organic tersedia setelah zat tersebut mengalami proses pembusukan oleh mikro organisme.
Macam-macam pupuk organik adalah sebagi berikut:
1.  Kompos
Pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat dengan cara membusukkan sisa-sisa tanaman. Pupuk jenis ini berfungsi sebagai pemberi unsure-unsur hara yang berguna untuk perbaikan struktur tanah.

2.  Pupuk Hijau
Pupuk hijau adalah bagian tumbuhan hijau yang mati dan tertimbun dalam tanah. Pupuk organic jenis ini mempunyai perimbangan C/N rendah, sehingga dapat terurai dan cepat tersedia bagi tanaman. Pupuk hijau sebagai sumber nitrogen cukup baik di daerah tropis, yaitu sebagai pupuk organic sebagi penambah unsure mikro dan perbaikan struktur tanah.

3.  Pupuk kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Kandungan hara dalam puouk kandang rata-rata sekitar 55% N, 25% P2O5, dan 5% K2O (tergantung dari jenis hewan dan bahan makanannya). Makin lama pupuk kandang mengalamai proses pembusukan, makin rendah perimbangan C/N-nya (Anonymous 2012 ).

2.5  Pupuk NPK (Nitrogen Phospate Kalium)

Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara utama lebih dari dua jenis. Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15 % dalam bentuk NH3, fosfor 15 % dalam bentuk P2O5, dan kalium 15 % dalam bentuk K2O. Sifat Nitrogen (pembawa nitrogen ) terutama dalam bentuk amoniak akan menambah keasaman tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Ketiga unsur dalam pupuk NPK membantu pertumbuhan tanaman dalam tiga cara. Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut:
N – nitrogen: membantu pertumbuhan vegetatif, terutama daun
P – fosfor: membantu pertumbuhan akar dan tunas
K – kalium: membantu pembungaan dan pembuahan
Pupuk NPK adalah pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat yang mengandung unsur hara utama Nitrogen, Fosfor, dan Kalium.Pupuk NPK merupakan salah satu jenis Pupuk Majemuk yang paling umum digunakan. (Hardjowigeno, 1992).

2.6  Pupuk dan pemupukan

Pupuk adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik maupun anorganik dengan maksud untuk mengganti kehilangan unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor keliling atau lingkungan yang baik Sebelum melakukan pemupukan, beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:Tanaman yang akan dipupuk, Jenis tanah yang akan dipupuk, Jenis pupuk yang digunakan, Jumlah (dosis) pupuk yang digunakan, Waktu pemupukan, Cara Pemupukan. Cara pemupukan dengan berkembangnya teknologi pertaniandan industri, telah melahirkan berbagaiproduk yang cara pemberiannya lain daribiasanya, namun secara garis besar dapatdikelompokkan menjadi dua carapemberian/memupuk, yakni memupuk dengan cara pemberian melalui akar memupuk dengan cara pemberian melalui daun.

Memupuk melalui akar disebar (broad casting)Pupuk yang disebarkan merata pada tanah-tanah di sekitar pertanaman atau pada waktu pembajakan/penggaruan terakhir, sehari sebelum tanam,kemudian diinjak-injak agar pupuk masuk ke dalam tanah..Kerugian cara ini ialah merangsang pertumbuhan rumput pengganggu/gulma dankemungkinan pengikatan unsur hara tertentu oleh tanah lebih tinggi. Memupuk melalui daunn,pupuk yang dilarutkan ke dalam air dengan konsentrasi sangat rendah kemudian disemprotkan langsung kepada daun dengan alat penyemprot biasa (Hand Sprayer). (Novitam ,1999).






III.  METODOLOGI




3.1  Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum ini meliputi: sabit, cangkul, koret, gembor, penggaris, meteran, timbangan gantung, kamera.

Bahan yang digunakan dalam  praktikum ini meliputi: tanaman tebu, air, pupuk (NPK, kompos atau organik), plastik mika untuk label, tali nilon, dan bilahan bambu.

3.2  Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

A.  Pembukaan dan pengolahan lahan

1.      Dibersihkan lahan dari sisa-sisa akar dan serasah
2.      Dibuang dan ditumpuk serasah ditempat pembuangan sampah
3.      Diukur setiap plot dengan ukuran 4x5 meter
4.      Digemburkan tanah dengan dicangkul sampai struktur tanahnya remah
5.      Dibuat guludan-guludan tanah sebanyak 6 guludan

B.  Penanaman Tebu

1.      Pemilihan bibit tebu yang segar dan sehat
2.      Bibit tebu dipotong 2 buku utuh dibagian tengahnya, bagian atas dan bawahnya dibekaskan setengah potongan
3.      Ditanam tebu diantara guludan dengan posisi mata tunas diletakkandisamping, penanaman dibuat sambung menyambung
4.      Ditutup bibit tebu menggunakan tanah
5.      Disiram tanaman tebu dengan air

C.  Pemupukan Tebu

1.      Ditimbang pupuk setiap perlakuan masing-masing
2.      Dibuat rorak diinggir guludan
3.      Ditaburkan pupuk dirorak yang telah dibuat dan ditutup tanah lagi
4.      Tanaman yang telah dipupuk disiram dengan air

D.  Perawatan dan PenyulamanTanaman Tebu

1.      Dibersihkan gulma yang tumbuh diguludan
2.      Dibuat label setiap plot kelompok tanaman tebu
3.      Dipasang label kelompok di bilahan bambu dan ditancapkan
4.      Disulam tanaman tebu yang mati dengan bibit yang baru
5.      Dilakukan penyiraman tanaman tebu setiap hari

E.  Pengamatan Pertumbuhan Tanaman Tebu

1.      Diukur tinggi tanaman tebu
2.      Dihitung jumlah daun tanaman tebu
3.      Dicatat dan dihitung rata-rata tinggi dan jumlah daun tanaman tebu
4.      Diamati tanaman dari hama dan penyakit jika terdapat gejala tertentu
5.      Dilakukan pengamatan tanaman tebu setiap satu minggu





















IV.HASIL DAN PEMBAHASAN




4.1 Hasil

Tabel 1.  Rata-rata tinggi tanaman tebu semua perlakuan pada pengamatan minggu ke-8.

Perlakuan
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
NPK
126,93
11
Kompos
126,46
10
½ Kompos + NPK
126,26
10
½ NPK + Kompos
126
11
Kontrol
117,66
10




Gambar 1.  Rata-rata tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman tebu pada pengamatan minggu ke-8.


4.2 Pembahasan

Dari tabel di atas terlihat bahwa tinggi tanaman pada semua perlakuan berbeda beda,tanaman tertinggi pada praktikum pupuk dan pemupukan yang dilakukan pada lahan seluas 20 m².
Dari semua perlakuan yang dilakukan oleh semua kelompok ,terdapat 5 perlakuan yaitu
1.      NPK (Urea 600 gr,TSP 300 gr,KCL 600 gr)/plot
2.      Kompos (20 kg/plot)
3.      NPK (Urea 600 gr,TSP 300 gr,KCL 600 gr)/plot + ½ Kompos (10 kg/plot)
4.      ½ NPK (Urea 300 gr,TSP 150 gr,KCL 300 gr)/plot + Kompos (20 kg/plot)
5.      Kontrol
.
4.2.1 Pertumbuhan Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman menggambarkan pertumbuhan dari tanaman tersebut, dengan demikian dapat dikatakan semakin tinggi tanamannya maka pertumbuhan tanaman semakin baik. Tanaman dengan rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada umur 8 minggu. yaitu dengan perlakuan pupuk NPK dengan tinggi 126,93 cm. dan rata-rata tinggi tanaman terendah yaitu dengan perlakuan kontrol dengan tinggi tanaman 117,66 cm.

 tinggi tanaman tiap perlakuan berbeda-beda karena dipengaruhi oleh unsur hara yang tersedia dari perlakuan yang dilakukan. Tanaman mengandung cukup N akan menunjukkan warna daun hijau tua yang artinya kadar klorofil dalam daun tinggi. Sebaliknya apabila tanaman kekurangan atau defisiensi N maka daun akan menguning (klorosis) karena kukarangan klorofil. Pertumbuhan tanaman lambat, lemah dan tanaman menjadi kerdil juga bisa disebabkan oleh kekurangan N. Tanaman cepat masak bisa disebabkan oleh kekurangan N. Defisiensi N juga dapat meningkatkan dan menurunkan produksi dan kualitas.Kuntohartono (1999)





4.2.2 Jumlah daun

Dari tabel jumlah daun  terlihat terdapat perbedaan jumlah daun pada berbagai perlakuan pada pengamatan minggu ke 8 . jumlah daun Rata-rata yang paling banyak yaitu pada perlakuan NPK,dan ½ NPK+KOMPOS dengan masing masing pertumbuhan-ratanya adalah 11 helai daun.sedangkan  pada perlakuan KONTROL,KOMPOS dan NPK+1/2KOMPOS mempunyai rata-rata jumlah daun yang paling sedikit dengan pertumbuhan rata-ratanya adalah 10 helai daun.. Masalah dosis yang tepat per satuan luas, bagaimana caranya memupuk, berapa frekuensi aplikasi dan jenis apa yang paling efisien akan berbeda disetiaptempat, karena adanya perbedaan jenis tanah, kandungan hara dalam tanah, iklim,mikro, dan lain lain. Pemberian pupuk nitrogen sangat menentukan pertumbuhant tanaman indikatornya terlihat jelas pada ukuran daun, tinggi batang, luas permukaan daun dan jumlah tunas. Kekurangan unsur ini membuat pertumbuhan tanaman merana, ukuran daun mengecil, kurus dan berwarna kekuningan. (Setiadi, 2006).































V.KESIMPULAN




Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah
1.      Tanaman dengan rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada umur 8 minggu. yaitu dengan perlakuan pupuk NPK dengan tinggi 126,93 cm. dan rata-rata tinggi tanaman terendah yaitu dengan perlakuan kontrol dengan tinggi tanaman 117,66 cm.
2.      Semakin tinggi dosis pupuk NPK yang diberikan hasil yang diperoleh makin tinggi.
3.      Aplikasi konsentrasi kompos pada pemberian pupuk NPK dosis tinggi menunjukkan pertumbuhan tebu relatif lebih baik dibanding pada pemberian dosis pupuk NPK yang rendah. 





























DAFTAR PUSTAKA




Anonymous ,2012.Pemupukan.http://pengertian-defenisi blogspot.com/2010/10/pemupukan.html. tanggal 11 Desember 2014.

Anonymousa,2012.Pupuk.http://id.wikipedia.org/wiki/pupuk Diakses tanggal 14 Desember 2014.

Gautara dan Wijadi. 1975. Dasar Pengolahan Gula I. Bogor : departemen Teknologi Hasil Pertanian Fateta, IPB.

Moerdokusumo. 1993. Pengawasan Kualitas Dan Teknologi pembuatan Gula Di Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

Sastrowijono, Soejoto. 1998. Cara Mengenal Klon-klon tebu Secara Morfologis. Pusat Penelitian Perkebunan Indonesia Pasuruan.

Soemarno.1991. Dasar-dasar Teknologi Gula. Yogyakarta: LPP Yogyakarta.
Sutardjo, Edhi. 2005. Budidaya Tanaman Tebu. Bumi Aksara. Jakarta.

Suwarto dan Octavianty, Yuke. 2010 Budidaya Tanaman Perkebunan Unggulan. Jakarta. Penebar Swadaya




















LAMPIRAN








Tabel 2.  Pengamatan Rata Rata Tinggi Tanaman Tebu Semua Perlakuan

Perlakuan
A
B
C
D
E
Minggu 1
25,93
17,89
12,74
20,47
20,37
Minggu 2
43,54
33,93
32,19
53,3
37,23
Minggu 3
60,6
47,24
50,43
54,97
53,07
Minggu 4
70,53
66,87
62,05
69,3
70,47
Minggu 5
85
86,93
70,8
78,87
82,03
Minggu 6
95,03
94,87
84,8
94,2
96,6
Minggu 7
108,7
107,3
103
109,1
108,2
Minggu 8
126,9
126,5
126,2
126
117,9




Gambar. 2.  Grafik Rata-rata Tinggi Tanaman Tebu Pada Semua Perlakuan










Tabel 3.  Pengamatan Rata Rata Jumlah Daun Tanaman Tebu Semua Perlakuan

Perlakuan
A
B
C
D
E
Minggu 1
3
3
3
3
4
Minggu 2
4
4
6
5
5
Minggu 3
5
5
6
6
6
Minggu 4
6
6
6
7
6
Minggu 5
7
8
7
8
8
Minggu 6
8
9
8
9
9
Minggu 7
10
9
9
11
10
Minggu 8
11
10
10
11
10


Gambar. 3.  Grafik Rata-rata Jumlah Daun  Tanaman Tebu Pada Semua Perlakuan


Tabel.4.  Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Tebu Selama 8 Minggu

Sampel
Tinggi Tebu
Jumlah Daun
1
74
7
2
106
8
3
67
6
4
111
10
5
113
8
Rata-rata
94,2
7,8



Gambar 4.  Diagram Batang Tinggi dan Jumlah Daun Tebu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS-JENIS KLON PADA TANAMAN KARET

PENGUKURAN DEBIT ALIRAN SUNGAI

PENGENALAN HERBISIDA