HAMA PENTING PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis jacq.)









HAMA PENTING PADA TANAMAN KELAPA SAWIT
(Elaeis guineensis jacq.)
(Tugas Mata Kuliah Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu Kelapa Sawit)



Oleh
Kelompok 14

Ida Komariah              1304122030
Theo Indra                  1304122065
















PROGRAM STUDI D III PERKEBUNAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015






1  Spodoptera litura (F.)



Hama ini termasuk ke dalam jenis serangga yang mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari empat stadia hidup yaitu telur, larva, pupa, dan imago . Pada siang hari ulat grayak tidak tampak, karena umumnya bersembunyi di tempat-tempat yang teduh, di bawah batang dekat leher akar.  Pada malam hari ulat grayak akan keluar dan melakukan serangan.  Serangga ini merusak pada stadia larva, yaitu memakan daun, sehingga menjadi berlubang-lubang.  Biasanya dalam jumlah besar ulat garayak bersama-sama pindah dari tanaman yang telah habis dimakan daunnya ke tanaman lainnya (Pracaya, 1995).

 














       Gambar 1.  Larva Spodoptera litura (F.)










1.1  Klasifikasi Spodoptera litura (F.)


Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthopoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Famili              : Noctuidae
Sub famili        : Amphipyrinae
Genus              : Spodoptera
Spesies            : Spodoptera litura F


1.2  Bioekologi Spodoptera litura F


Perkembangan ulat grayak bersifat metamorfosis sempurna, terdiri atas stadia ulat, pupa, ngengat dan telur.

 














          Gambar 2.  Siklus hidup Spodoptera litura F


1)        Telur

Imago betina meletakkan telur pada malam hari, telur berbentuk bulat sampai bulat lonjong telur di letakkan secara berkelompok di atas permukaan daun tanaman bawang merah.  Dalam satu kelompok jumlah telur antara 30 – 100 butir, telur-telur dapat menetas dalam waktu 2 – 4 hari.  Kelompok telur di tutupi oleh rambut-rambut halus yang berwarna putih, kemudian telur berubah menjadi kehitam-hitaman pada saat akan menetas.  Telur umumnya menetas pada pagi hari (Rahayu dan Nur Berlian, 1994).

2)        Larva

Larva mempunyai warna yang bervariasi, memiliki kalung (bulan sabit) berwarna hitam pada segmen abdomen keempat dan kesepuluh.  Pada sisi lateral dorsal terdapat garis kuning.  Ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan, dan hidup berkelompok. Beberapa hari setelah menetas (bergantung ketersediaan makanan), larva menyebar dengan menggunakan benang sutera dari mulutnya.  Pada siang hari, larva bersembunyi di dalam tanah atau tempat yang lembap dan menyerang tanaman pada malam hari atau pada intensitas cahaya matahari yang rendah. Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.

Stadium ulat terdiri atas 6 instar yang berlangsung selama 14 hari.  Ulat instar I, II dan III, masing - masing berlangsung sekitar 2 hari.  Ulat berkepompong di dalam tanah.  Stadia kepompong dan ngengat, masing-masing berlangsung selama 8 dan 9 hari.  Ngengat meletakkan telur pada umur 2 - 6 hari.  Ulat muda menyerang daun hingga tertinggal epidermis atas dan tulang-tulang daun saja.  Ulat tua merusak pertulangan daun hingga tampak lubang - lubang bekas gigitan ulat pada daun.

Warna dan prilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah Agrothis ipsilon, namun terdapat perbedaan yang cukup mencolok, yaitu pada ulat grayak terdapat tanda bulan sabit berwarna hijau gelap dengan garis punggung gelap memanjang.  Pada umur 2 minggu, panjang ulat sekitar 5 cm.  Ulat berkepompong di dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon), berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,60 cm.  Siklus hidup berkisar antara 30 - 60 hari (lama stadium telur 2 - 4 hari).  Stadium larva terdiri atas 5 instar yang berlangsung selama 20 - 46 hari, Lama stadium pupa 8 - 11 hari.

3)        Pupa

Pupa S. litura berwarna cokelat muda dan pada saat akan menjadi imago berubah menjadi cokelat kehitam-hitaman.  Pupa memiliki panjang 9 - 12 mm, dan bertipe obtek, pupa berada di dalam tanah dengan kedalaman + 1 cm, dan sering di jumpai pada pangkal batang, terlindung di bawah daun kering atau di bawah partikel tanah.  Pupa hidup berkisar 5 - 8 hari bergantung pada ketinggian tempat di atas permukaan laut (Anonim, 2004).

4)        Imago

Imago memiliki panjang yang berkisar 10 - 14 mm dengan jarak rentangan sayap 24 - 30 mm.  Sayap depan berwarna putih keabu - abuan, pada bagian tengah sayap depan terdapat tiga pasang bintik-bintik yang berwarna perak.  Sayap belakang berwarna putih dan pada bagian tepi berwarna cokelat gelap


1.3  Ekologi Spodoptera litura F


Larva S. litura mulai di temukan pada saat tanaman berumur dua minggu setelah tanam, sedangkan stadium awal pertumbuhan tanaman kelapa sawit yang biasanya ditemukan adalah kelompok telur.  Populasi S. litura mulai meningkat pada tanaman belum menghasilkan.  Pada musim kemarau populasi S. litura sangat tinggi dan kemampuan imagonya meletakkan telur sangat tinggi.  Pada periode tersebut rata-rata populasi larva adalah 11,52 ekor per batang tanaman.


1.4  Daerah Sebaran Spodoptera litura F


Spodoptera litura di temukan di Eropa, Asia, Afrika, Australia, Amerika, dan biasanya banyak terdapat pada daerah yang beriklim panas.  Di daerah tropic yang di temukan di negara - negara seperti Indonesia, India, Arab, bagian selatan Yaman, Somalia, Ethopia, Sudan, Nigeria, Mali, Kamerun dan Madagaskar.
Di Indonesia hama ini terutama banyak di temukan pada pertanaman bawang merah di Brebes, Jawa Tengah (Supriyadi, 1983) dan Sulawesi Selatan khususnya Jeneponto sebagai sentral produksi bawang merah.


1.5  Tanaman Inang Dari Hama Spodoptera litura F


Tanaman inang adalah tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan serangga baik yang berhubungan dengan perilaku maupun dengan kebutuhan gizi serangga. Hubungan antara tanaman inang dan serangga merupakan serangkaian proses interaksi antara lain mekanisme pemilihan tanaman inang.  Pemanfaatan tanaman tersebut sebagai sumber makanan serta tempat berlindung dan tempat bertelur. Serangga berkembang biak lebih cepat pada tanaman inang yang sesuai dan sebaliknya perkembangan serangga menjadi lambat pada tanaman inang yang kurang sesuai.  Perbedaan tingkat kesesuaian dapat terjadi baik pada tanaman yang sama maupun pada tanaman yang berbeda spesiesnya (Fadruddind, 1980).

Tanaman bawang merah merupakan salah satu inang utama S. litura.  Tanaman inang lainnya adalah tanaman padi, terutama yang di tanam pada dataran tinggi (Kalshoven, 1981).  Selain itu S. Litura juga dapat meyerang tanaman tomat, lombok, tembakau, orok - orok, kapri, jagung dan sayuran lainnya
(Sunarjono dan Soedomo, 1983).


1.6  Gejala Serangan Spodoptera litura F


Bagian tanaman yang terserang terutama pada bagian daun di mana telur yang baru menetas segera menggigit daun tanaman bawang yang masih muda, kemudian larva tersebut masuk kedalam daun, akibatnya daun kelapa sawit berlubang dan ada kalanya sampai patah.  Dari luar dapat di ketahui dengan melihat gejala yang ditimbulkan pada daun tersebut, yakni pada daun kelapa sawit tampak berat putih memanjang seperti membrane, kemudian layu, berlubang, dan di dekat lubang tersebut terdapat kotoran ulat (Sunarjono dan Soedomo, 1983). Larva S. litura kadang-kadang meyerang sampai ke titik tumbuh yang terjadi apabila populasi hama ini cukup tinggi (Rahayu dan Nur Berlian, 2004).  Apabila tidak di kendalikan maka daun kelapa sawit di areal pertanaman akan habis.


1.8  Pengendalian Hama Spodoptera litura F


Prinsip pengendalian hama tanaman yang di kembangkan dewasa ini adalah menekan jumlah populasi hama yang menyerang tanaman sampai pada tingkat populasi yang tidak merugikan.  Komponen pengendalian hama yang dapat di terapkan untuk mencapai sasaran tersebut antara lain pengendalian hayati, pengendalian secara fisik dan mekanik, pengendalian secara kultur teknis dan pengendalian secara kimiawi.
Pengendalian hayati yaitu suatu teknik pengendalian hama secara biologi yaitu dengan memanfaatkan musuh alami seperti predator, parasitoid dan pathogen. Keuntungan pengendalian hayati ini adalah aman, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan tidak menyebabkan resistensi (Jumar, 2000). Beberapa spesies predator dari S. litura adalah Solenopsis sp, Paedorus sp, Euberellia sp, Lycosa sp, dan laba-laba. 
Pengendalian secara kultur teknis adalah pengendalian serangga hama dengan memodifikasi kegiatan pertanian agar lingkungan pertanian menjadi tidak menguntungkan bagi perkembangan hama.  Usaha - usaha tersebut mencakup sanitasi, pengolahan tanah, pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, penggunaan mulsa, penggunaan tanaman perangkap.
Pengendalian kimiawi adalah usaha mengendalikan hama dengan menggunakan bahan kimia pestisida yang mempunyai daya racun terhadap serangga hama yang di sebut insektisida.  Insektisida dapat bersifat racun perut, racun kontak, dan racun pernapasan.  Insektisida yang dapat bersifat racun perut seperti : Curacron 500 EC dan Decis 2,5 EC (Anonim, 1994).  Pengendalian S. litura pada tanaman hingga saat ini masih mengandalkan penggunaan insektisida secara intensif baik dengan meningkatkan dosis maupun dengan meningkatkan interval waktu penyemprotan dengan system kelender (Supriyadi, 1993). 
Pestisida adalah semua zat campuran zat yang khusus di gunakan untuk mengendalikan, mencegah gangguan serangga, binatang mengerat, nematode, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang di anggap hama.  Pestisida dapat di golongkan berdasarkan sasaran yaitu insektisida untuk mengendalikan serangga hama, fungisida untuk mengendalikan cendawan, rodentisida untuk mengendalikan binatang pengerat, nematisida untuk mengendalikan nematode, mulliksisida untuk mengendalikan molluska atau siput, akarisida untuk mengendalikan akarina atau tungau, herbisida untuk mengendalikan gulma dan bakterisida untuk mengendalikan bakteri (Rukmana dan Sugandi, 2002).


2  Parasa vivida



Parasa vivida adalah ulat dari keluarga lepidoptera.  Siklus hidup parasa vivida berjalan umumnya dikenal sebagai ulat menyengat pada deltoides populus yang telah dipelajari dan dijelaskan untuk pertama kalinya pada bagian ini.  Parasa vivida adalah hama limacodid utama.  Larva hama ini memiliki jumbai yang bergerak lambat seperti siput.  Pada umumnya larva hama ini memakan daun kecuali pelepah.  Imago betina dari parasa vivida lebih besar dibandingkan iamgo yang jantan.

                                               
 














          Gambar 3.  Larva dari parasa vivida

2.1  Klasifikasi Parasa vivida


Kingdom         : Animalia
Suku                : Arthopoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Famili              : Limacodidae
Spesies            : Parasa vivida


2.2  Bioekologi Parasa Vivida


Perkembangan ulat grayak bersifat metamorfosis sempurna, terdiri atas stadia ulat, pupa, ngengat dan telur.

1)        Telur

Telur ngengat famili Limacodidae umumnya berbentuk bundar pipih, transparan (bening) dan diletakkan secara tunggal atau berkelompok dengan membentuk deretan sejajar di bawah permukaan anak daun.  Telur akan berubah warna menjadi orange kekuning-kuningan yang berarti telah terdapat calon larva di dalamnya.  Telur akan menetas setelah 4 - 8 hari.  Kulit telur akan dimakan oleh larva yang baru keluar sebelum memakan jaringan daun.  Dalam menjalani periode larva, ulat api dapat mengalami pergantian instar sebanyak 8 - 11 kali tergantung kondisi pakan yang ada dan faktor lingkungan.

2)        Larva

Larva tidak memiliki kaki seperti layaknya ulat pada umumnya.  Sebagai gantinya mereka memiliki semacam mangkuk pengisap yang berukuran kecil. Larva akan memanfaatkan lendir untuk mendukung pergerakannya.  Sebenarnya lendir ini berupa sutera cair, sehingga bila digunakan akan memudahkan gerakan larva.  Larva dewasa memiliki rambut - rambut yang berfungsi sebagai duri sengat, sehingga menyebabkan rasa panas, gatal, dan pedih seperti terbakar bila tersentuh kulit.
3)        Pupa

Ulat parasa vivida akan memintal kokon sutera berbentuk bulat telur membentuk pupa secara berkelompok dan melekat pada bagian tanaman (pangkal lidi) atau berserakan di atas permukaan tanah, selanjutnya akan dibuat mengeras dengan memanfaatkan kalsium oksalat yang dikeluarkan oleh tabung malfigi

4)        Imago

Imago berwarna coklat keabu - abuan, kebanyakan berambut lebat, dan mempunyai rambut - rambut halus di sepanjang tepi sayapnya.  Imago mudah dikenali melalui pose bertenggernya yang unik yaitu abdomennya akan dilengkungkan sehingga membentuk sudut 90ยบ terhadap toraks dan sayapnya. Imago aktif pada senja dan malam hari (nokturnal).  Pada siang hari mereka hinggap di pelepah - pelepah tua dengan posisi terbalik, mirip ulat kantung, atau pada tumpukan daun yang telah dibuang.  Imago famili limacodidae memiliki keperidian yang cukup tinggi.  Beberapa spesies mampu menghasilkan lebih dari 400 butir telur.  Secara keseluruhan siklus hidup ulat api berkisar antara 40 - 138 hari tergantung spesiesnya.








 
















    Gambar 4.  Imago parasa vivida




2.3  Ekologi Parasa vivida


Penyebaran parasa vivida banyak dijumpai di negara - negara berilkim tropis, misalnya Indonesia, Muangthai, dan Malaysia.  Meskipun begitu, di negara-negara  4 (empat) musim pun keberadaannya diduga lebih banyak.  Di Indonesia kerugian yang ditimbullkan serangan parasa vivida pada kelapa sawit diperkirakan dapat mengakibatkan penurunan produksi sampai 70% pada tahun pertama, bahkan jika serangan berat, tanaman dapat tidak berbuah selama 1 - 2 tahun berikutnya. 


2.4  Gejala Serangan Parasa Vivida


Gejala serangan parasa vivida pada kelapa atau kelapa sawit umumnya sama, yaitu rusaknya daun tanaman.  Gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah. Larva akan memakan helaian daun mulai dari tepi  hingga helaian daun yang telah berlubang habis, tinggal menyisakan tulang daun atau lidi.  Bagian daun yang disukai parasa vivida adalah anak daun pada ujung pelepah.  Akibatnya tanaman terganggu proses fotosintesisnya karena daun menjadi kering, pelepahnya menggantung dan akhirnya berdampak pada tidak terbentuknya tandan selama
2 - 3 tahun.  Parasa vivida terkenal sangat rakus.  Dalam sehari mampu memakan 300 - 500 cm daun kelapa sawit.  Batas ambang ekonomi (AE) untuk ulat api adalah 5 - 10 ekor.  Ini berarti bila dalam 1 pohon ditemukan sedikitnya 5 ekor larva, maka pengendalian perlu segera dilakukan.


2.5  Pengendalian Hama Parasa Vivida


Pengendalian Populasi hama parasa vivida ini dengan cara kimiawi adalah pengendalian hama dengan menggunakan bahan kimia penyemprotan insektisida.










DAFTAR PUSTAKA





Anonim, 2004. http://www.google. co.id /Hama Ulat Grayak /Spodopteralitura.  Diakses pada tanggal 11 Oktober 2015 pukul 20.00 WIB

Fadruddind,1980. Moralitas larva ulat grayak (Spodoptera Litura F.) pada berbagai instar dan perlakuan insektisida pada kedelai. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan..

Wordpress, http://3.bp.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 11 Oktober 2015 pukul 20.00 wib

Wordpress, http://4.bp.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 11 Oktober 2015 pukul 20.00 WIB

Sunarjono dan Soedomo, 1983. Mengatasi hama dan penyakit. kanisius. Bandung.

Jumar, 2000. Ulat tentara . Ditjenbun. Deptan.

Pracaya, 1995. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rahayu dan Nur Berlian, 1994. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gajah mada University Press. Yogyakarta.

Rukmana dan Sugandi, 2002. Moralitas Larva Ulat Grayak Pada Berbagai Instar Dan Perlakuan Insektisada Pada Kedelai. Penebar Swadaya.Jakarta.

Supriyadi, 1983. Mengatasi Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura. Graha ilmu.Yogyakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS-JENIS KLON PADA TANAMAN KARET

PENGUKURAN DEBIT ALIRAN SUNGAI

PENGENALAN HERBISIDA