TEKNOLOGI PEMBIBITAN KARET
TEKNOLOGI PEMBIBITAN KARET
(Laporan Akhir Praktikum Pembibitan Karet)
Oleh
Theo Indra
1304122065

PROGRAM STUDI
D3 PERKEBUNAN
JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2014
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tanaman karet berasal
dari bahasa latin yang yaitu Havea
brasiliensis yang berasal dari Negara Brazil. Tanaman ini merupakan sumber
utama bahan tanaman karet alam dunia. Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang
dapat tumbuh sampai umur 30 tahun Padahal jauh sebelum tanaman karet ini
dibudidayakan, penduduk asli diberbagai tempat seperti: Amerika Serikat, Asia
dan Afrika Selatan menggunakan pohon lain yang juga menghasilkan getah Getah
yang mirip lateks juga dapat diperoleh dari tanaman Castillaelastica (family moraceae).
Sekarang tanaman tersebut kurang dimanfaatkan lagi getahnya karena tanaman
karet telah dikenal secara luas dan banyak dibudidayakan. Sebagai penghasil
lateks tanaman karet dapat dikatakan satu-satunya tanaman yang dikebunkan
secara besar- besaran. (Nazarudin dkk, 1992)
Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi,
jumlah biji biasanya tiga, kadang enam, sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan kulit
keras. Warnanya cokelat kehitaman dengan bercak- bercak berpola yang khas Ukuran
biji besar dengan kulit keras. Warnaya coklat kehitaman dengan bercak-bercak
berpola yang khas (Pathamus, 1982).
Bibit karet
yang baik adalah bibit yang unggul dan bermutu. Bibit karet yang dianjurkan
adalah bibit karet yang berasal dari klon unggul sesuai dengan potensinya, yang
diperbanyak secara okulasi. Bahan tanam bermutu baik ialah bahan tanam yang
dipelihara dengan baik sehingga pertumbuhan cepat dan seragam, Sehingga dapat
mempersingkat masa Tanaman Belum Menghasilkan.
Biji tidak dapat disimpan lama karena bersifat rekalsitran (cepat
kehilangan viabilitas/daya kecambah). Daya kecambah akan menurun sampai 45%
jika disimpan satu bulan Terdapat dua metode seleksi biji,metode
yang digunakan yaitu
metode pemantulan, dilakukan dengan menjatuhkan biji
diatas lantai
yang keras. Biji yang melenting memiliki daya kecambah lebih dari 80
(Setiamidjaja, 1999)
1.2
Tujuan
Tujuan
dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengetahui
cara
dan teknik melakukan
pembibitan karet yang baik dan benar menggunakan polibag pada pembibitan
langsung polibag (PLP).
2.
Mengetahui
cara melakukan perawatan pada kebun entres dan batang bawah tanaman karet.
3.
Mengetahui
cara melakukan okulasi yang baik dan benar.
4.
Terampil dalam membuat jendela okulasi dan pengambilan
mata entres (okulasi).
II.
METODOLOGI
2.1
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum adalah koret, cangkul,
gembor, cutter, gunting pangkas, tutu botol air mineral, ayakan dengan ukuran
lubang 0,5 cm, polibag, gunting, Sailer ( untuk
merekatkan polibag kembali ), penggaris, spidol / label, gergaji, pisau
okulasi, kain lap, asahan pisau, dan plastik es.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum pembibitan karet ini
adalah Pupuk Mutiara ( dengan kandungan unsur hara NP dan K ), tanah top soil,
batang bawang untuk okulasi, batang atas untuk mata tunas.
2.2
Prosedur Kerja
2.2.1
Perawatan Pada Pohon Induk.
- Kegiatan
dimulai dengan pembersihan gulma
terlebih dahulu pada lahan batang bawah dan kebun entres.
Dilakukan pembersihan agar tidak terjadi persaingan
pengambilan unsur hara pada
saat pemupukan.
- Setelah lahan dibersihkan dari gulma, lalu dilakukan
penunasan pada cabang-cabang yang tidak diinginkan pertumbuhannnya. Penunasan ini dilakukan pada tanaman karet
yang tingginya belum mencapai 3 meter.
Apabila terdapat cabang pada tanaman karet yang dibawah 3 m, maka pada
saat tanaman siap disadap akan sulit dilakukan penyadapan karena akan
mengganggu.
- Kemudian setelah dilakukan pembersihan gulma dan
penunasan, dilakukan pemupukan. Pemupukan ini dilakukan dengan ara membuat
parit buntu disekeliling tanaman dengan jarak 10-15 cm. Banyak pupuk yang digunakan per pohon yaitu
sebanyak 20 gram atau setara denga 2 tutup botol air mineral. Pemupukan ini dilakukan pada batang atas dan
batang bawah. Setelah pupuk diberikan
maka parit buntu yang telah dibuat tadi ditutup kembali, dengan tujuan agar
pupuk tindak menguap dan apabila hujan maka pupuk tidak akan tercuci.
- Dilakukan penyiraman pada tanaman setelah pupuk
diberikan, agar pupuk dapat segera bereaksi pada tanaman.
2.2.2
Pembibitan Langsung Polibag
-Dilakukan
seleksi benih dengan cara dilentingkan biji dan dilihat warna kulit yang mengkilat,
-Dilakukan
pengayakan pada tanah terlebih dahulu sebelum dimasukkan kedalam polibag.
Digunakan tanah top soil karena tanah bagiann ini sangat subur,
-Polybag yang
terlalu besar dimodifikasi menjadi ukuran 29 cm x 42 cm
-Dimasukkan
tanah yang telah diayak kedalam polybag, usahakan polibag dapat tegak dan tidak
patah pinggang.
-Ditanam benih
karet pada polybag sebanyak 2 benih untuk 1 polybag kemudian disiram agar benih
dapat berimbibisi Okulasi
2.2.3 Okulasi
- Disiapkan alat yang akan digunakan terlebih dahulu
seperti pisau okulasi, kan lap, dan plastik. Kemudian bahan yang akan digunakan
seperti batang bawah dan mata entres.
- Dibuat jendela okulasi pada batang bawah dengan ukuran
sepertiga lebar dari lilit batang bawah.
Pembuatan jendela okulasi harus lebih lebar dari lebar mata entres yang
akan ditempel.
- Cara pembuatan jendela okulasi yaitu dengan membuat dua
garis sejajar horizontal lalu potong
bagian atasnya. Jangan dibuka terlebih dahulu sebelum mata entres diambil.
- Dilakukan pengambilan mata entres, caranya hampir sama,
namun pada peengambilan mata entres ini dibuat dua garis sejajar terlebih
dahulu, lalu dibuat garis memotong. Tekan kedalam hingga mengenai kayu, dorong
pisau keatas menggunakan ibu jari, diusahakan sayantan melebihi garis sejajar
agar tidak merusak sisi kanan dan kiri mata entres yang akan ditempel.
- Setelah sampai diatas, diambil secara perlahan kulit yang
akan ditempel, mata tunas yang akan ditempel harus terdapat benjolan, karena
benjolan tersebutlah yang akan menjadi individu baru. Mata tunas yang akan ditempel tidak boleh
kotor dan memar, apabila kotor dan memar sebaiknya tidak digunakan, karena
pertumbuhannya tidak akan baik.
- Dibuka jendela okulasi yang telah dibuat tadi, lalau
ditempelkan mata tunasnya dan diikat dengan kuat. Cara mengikatnya yaitu dari bawah lalu
keatas, pada saat pengikatan, plastik yang digunakan harus selalu terbuka lebar
agar tidak terdapat lekukan pada saat pengikatan.
- Setelah 2 minggu okuulasi dilakukan lalu dilakuakan
pengecekan denga membuka plastik yang telah dililitkan dua minggu yang
lalu. Apabila setelah dibuka mata tunas
yang ditempalkan berwarna hijau, maka okulasi berhasil, dan apabila berwarna
coklat maka okulasi gagal.
III.
PEMBAHASAN
3.1
Perawatan
Perawatan tanaman karet pada masa tanaman
ditunjukkan untuk mempercepat pertumbuhan vegetatif tanaman sehingga masa
produktif karet tidak menjadi lebih lama. Pada umumnya masa TBM tanaman karet
mencapai lima tahun dan periode ini merupakan masa yang cukup kritis untuk
mendapatkan pertumbuhan tanaman karet yang baik .Perawatan tanaman karet ini
difokuskan pada tanamannya selain juga terhadap kondisi lahan agar lahan dapat
terus mendukung pertumbuhan tanaman karet. Kegiatan perawatan karet meliputi
pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit. Pemupukan dan
pengendalian gulma merupakan dua kegiatan pemeliharaan yang sangat dominan pada
pertanaman karet yang belum menghasilkan. Pengendalian gulma sebelum pemupukan
bertujuan agar pupuk yang diberikan sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh tanaman
karet. Pengendalian gulma dapat dilakukan beberapa hari sebelum atau sesaat
sebelum pemupukan.
Salah
satu kriteria pemeliharaan yang baik pada tanaman karet dapat dilihat dari
perkembangan lilit batang tanaman karet. Rata-rata tanaman karet akan bertambah
lilit batangnya sekitar 9 cm pertahun, sehingga pada tahun kelima tanaman sudah
memiliki lilit batang >45 cm.
Pada pemupukan tanaman karet, pupuk yang digunakan adalah pupuk NPK mutiara
dengan perbandingan 16:16:16 . Pupuk ini
diberikan selama tanaman belum menghasilkan setiap 1 bulan sekali. Pada tanaman
belum menghasilkan pemberian pupuk diberikan dengan tujuan agar mempercepat
pertumbuhan dan cepat siap matang sadap. Pada tanaman yang sudah menghasilkan
maka pupuk diberikan setiap 6 bulan
sekali, Tujuan pemupukan pada tanaman
menghasilkan ini agar tanaman berproduksi secara maksimal.
3.2 Pembibitan Langsung Polibag (PLP)
Tanaman karet memiliki umur ekonomis
20-30 tahun, dengan memberikan produk berupa lateks dan kayu. Oleh karena itu,
persiapan bibit harus dilaksanakan dengan benar agar dapat memberikan jaminan
sesuai umur ekonomisnya. Penggunaan bibit dalam polibag atau Pembibitan Langsung Polibag ( PLP ) merupakan salah satu cara untuk
mencapai hal itu. Bibit dalam polibag mempunyai beberapa keunggulan, antara
lain tanaman seragam, kematian tanaman di lapangan dapat diperkecil, perawatan
lebih mudah dibandingkan dengan bibit yang langsung ditanam di lapangan, dan
pertumbuhan awal tanaman lebih jagur dibandingkan tanaman OMT langsung. Namun
pembuatan bibit dalam polibag relatif mahal, harus disiapkan tanah lapisan atas
(top soil, Pertumbuhan
tanaman dari bibit dalam polibag lebih cepat dan tumbuh, seragam, tahan
terhadap panas matahari langsung, dan perakaran sudah mapan sehingga tahan
terhadap angin.
3.3
Okulasi
Okulasi
adalah salah satui teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan
menempelkan mata tunas dari suatu tanaman kepada tanaman lain yang dapat
bergabung( Kompatibel) yang bertujuan menggabungkan sifat-sifat yang baik dari
setiap komponen sehingga di peroleh perumbuhan dan produksi yang baik. Prinsip
okulasi sama yaitu penggabungan batang bawah dengan batang atas, yang
Salah
satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbanyak tanaman karet
dari klon-klon unggul adalah dengan menggunakan teknik okulasi. Ada tiga
macam teknik okulasi pada tanaman karet,
yaitu okulasi dini, okulasi hijau dan okulasi coklat. Ketiga macam teknik
okulasi tersebut pada prinsip nya relatif sama, perbedaannya hanya terletak
pada umur batang bawah dan umur batang atas.
Amypalupy
(1988) menjelaskan bahwa bahan tanaman karet asal okulasi banyak memberi
keuntungan dari sifat-sifat unggul induknya seperti pertumbuhan tanaman seragam, produksi tinggi, mulai
berproduksi dalam waktu relatif singkat,
mudah dalam penyadapan, dan tahan terhadap penyakit,hasil okulasi pada
tanaman karet salah satunya adalah stum mata tidur. Stum mata tidur adalah
benih hasil okulasi dengan mata tunas okulasi yang belum tumbuh. Dalam
melakukan okulasi dibutuhkan mata tunas (entres) yang merupakan bagian tanaman batang
atas yang akan di okulasikan dengan batang bawah. Mata tunas ini setelah
menyatu dengan batang bawah akan tumbuh menjadi batang tanaman karet Ada tiga
jenis mata tunas yang tampak pada tanaman karet yaitu mata daun, mata sisik dan
mata bunga. Mata daun dan mata sisik dapat dipakai untuk okulasi, sedangkan
mata bunga tidak dapat digunakan Klon-klon yang dianjurkan sebagai
batang bawah adalah klon GT 1, LCB 1320, dan AVROS 2037.
.
IV.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari
praktikum ini adalah:
1.
Pembibitan Langsung Polibag ( PLP ) Bibit dalam polibag mempunyai
beberapa keunggulan, antara lain tanaman seragam, kematian tanaman di lapangan
dapat diperkecil, perawatan lebih mudah dibandingkan dengan bibit yang langsung
ditanam di lapangan
2. Biji
tidak dapat disimpan lama karena bersifat rekalsitran (cepat kehilangan
viabilitas/daya kecambah).
3. Okulasi adalah salah satui teknik perbanyakan
tanaman secara vegetatif dengan menempelkan mata tunas dari suatu tanaman
kepada tanaman lain yang dapat bergabung( Kompatibel) yang bertujuan
menggabungkan sifat-sifat yang baik dari setiap komponen sehingga di peroleh
perumbuhan dan produksi yang baik.
4. Mahasiswa
telah mampu melakukan okulasi dengan baik dan benar. Okulasi dimulai dari pengambilan perisai
pembuatan jendela hingga dan jiwa kemudian ditempelkan pada jendela okulasi dan
mengikatnya dengan plastik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2005. Panduan Dalam Budidaya Karet.Kebun Getas. Salatiga
Indraty, Indyah S. 2010. Mutu Entres
untuk Tanaman Karet. Dalam Media perkebunan edisi 85hal 56-58. Jakarta
Pusat.
Nazaruddin
dan F.B.Paimin, 2006. Karet Budidaya dan
Pengolahan Strategi Pemasaran.Penebar Swadaya. Jakarta.
Setiawan D. H. dan Andoko A. 2005. Petunjuk Lengkap Budi Daya Karet.PT Agro
Media Pustaka. Solo
Setyamidjaja
Djoehana. 1983. Karet: Budidaya dan Pengolahan. Cv. Yasaguna. Jakarta.
Suharyanto. 1989. Klon-Klon
Anjuran Karet Dalam Perkebunan Rakyat. Kanisius. Yogyakarta.
LAMPIRAN
Menanam kecambah karet dalam polibag,apakah tunasnya kebawah atau ke atas pak/bu?
BalasHapus